TAS DAUR ULANG UNTUK KIKI
Pagi. Pukul 6.29. Matahari mulai beranjak dari peraduannya, diiringi kicau burung yang seolah menggelitik tubuh yang malas untuk bangkit dari tidurnya.
“Nak, ayo bangun, nak! Nanti kamu terlambat ke sekolah lho!” pinta ibu sambil menepuk lengan Kiki, anak bungsunya.
Kiki cuek saja, bahkan menggeser tubuh membelakangi ibunya sambil mempermantap balutan selimut di tubuhnya.
“Nak, anak ibu yang pintar kenapa? Kamu tidak sedang sakit, kan?!” ucap ibu lembut, coba menyembunyikan kekhawatirannya sambil mengusap lembut dahi dan leher Kiki.
Kiki bergeming. Diam. Tidur. Atau..
“Kiki tidak mau sekolah!! Kiki tidak mau pergi sekolah jika ibu tidak membelikan Kiki tas baru!” bentak Kiki berontak menepis tangan ibunya. Kakinya digerakkannya menendang hingga selimut tak lagi mantap membalut tubuhnya. Kiki menangis.
Ibu terdiam. Berjuta kebingungan seolah menarikan tarian melingkar di pikirannya. Ibu sedih belum bisa memenuhi keinginan Kiki untuk mengganti tas sekolahnya yang memang telah rusak. Ibu tak tahu ke mana mendapatkan uang pembeli tas, sedangkan suaminya hanya bisa terbaring di atas tempat tidur dikarenakan lumpuh. Lumpuh perekonomian keluarga.
Harapan tinggal ibu satu-satunya. Untuk menyekolahkan empat orang anak dan merawat suami tercinta yang sakit, setiap hari ibu jualan gorengan dan menitipkannya di warung tetangga. Penghasilannya sehari tak seberapa, paling tidak bolehlah untuk kembali mengepulkan asap dapur sehari. Besoknya, ya harus berjuang lagi melanjutkan hidup. Hidup itu harus selalu disyukuri. Dengan bersyukur, hati selalu bahagia dan terkayakan. Tuhan tak pernah meninggalkan umatnya yang selalu bersyukur, sabar, dan tawakkal. Ini filosofi hidup yang selalu ibu pegang dan membuatnya bertahan dalam menjalani hidup. Sungguh mulia.
“Kiki bersabar ya, nak. Kalau Kiki tak sekolah nanti tak bisa mencapai cita-cita menjadi guru lho! Sementara.., pakai saja dulu tas yang ada. Ibu akan mengusahakan secepatnya mengganti tas kamu!” rayu ibu, coba menenangkan.
Kiki menghentikan tangisnya. “Ibu janji?” tantang Kiki.
“Iya, ibu janji anakku sayang!” balas ibu.
“Janji harus ditepati!” lanjut Kiki.
“Iya, janji harus ditepati!” ucap ibu pasti, “Sekarang, ayo bergegas bangkit, mandi, gosok gigi, berseragam, sarapan!”
Tak mau berlama-lama lagi, Kiki langsung bangkit, mandi, gosok gigi, berseragam, dan sarapan.
“Saya berangkat, bu!” Pamit Kiki sambil mencium tangan ibunya, setelah sebelumnya menengok bapaknya di kamar, “Assalamu alaikum!”
“Waalaikum salam!” balas ibu, “Jangan main saat belajar ya.., dengar nasehat guru di sekolah!”
Urusan dengan Kiki untuk sementara selesai. Ibu langsung ke dapur untuk mengambil gorengan jualannya dan bergegas menitipkanya ke warung tetangga. Lima puluh gorengan telah tertata rapi di dalam baskom yang dialasi kertas koran. Satu gorengan dihargai Rp 450, jadi ibu maksimal hanya bisa mendapatkan Rp 22.500 per hari dari hasil jualan gorengan. Itu pun jika semua gorengannya laku terjual.
Tak jarang ibu harus bekerja ekstra dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter menjajakan dagangannya jika tak laku di warung. Jika tak laku lagi, ya.., dijadikan lauk untuk makan malam. Ibu tak mengeluh. Ibu selalu bersyukur.
Beres. Jualan telah dititipkan. Kini memutar pikiran untuk memenuhi janji mengganti tas Kiki. Ibu sebenarnya sudah punya rencana untuk itu. Sebuah tas daur ulang untuk Kiki!
Dikumpulkannya bekas kemasan sabun colek dan detergen, dicuci, dilap biar cepat kering, diangin-anginkan biar kering sempurna. Setelah kering, ibu ke tetangga lagi, numpang menjahit meminjam mesin jahit tetangga.
Mula-mula, dua bekas kemasan detergen digunting sama besar untuk bagian depan dan belakang tas, ditambah lagi dua potongan untuk sisi kiri dan kanan tas. Tiap bagian kemudian disatukannya dengan cara dijahit dengan mesin jahit. Untuk pengancing tas digunakan perekat yang diambili dari tas rusak. Demikian juga dengan talinya, semuanya diambili dari tas tua yang tak terpakai lagi namun ibu enggan membuangnya. Agar senada, tali tas tua tersebut sebelumnya dilapisi dengan kemasan bekas sabun colek. Semua pekerjaan membuat tas daur ulang dikerjakan ibu dengan senang hati. Janji memang harus ditepati. Dan hasilnya, jadilah tas daur ulang untuk Kiki!
***
Siang. Pukul 13.45. Matahari terik sedikit saja bergeser ke barat dari kepala. Intinya cuaca cerah. Tak ada mendung sedikitpun.
“Assalamu alaikum!” teriak Kiki sejak masih di pekarangan rumah, “Saya pulang!” sambungnya tepat setelah memasuki rumah.
“Waalaikum salam, nak!” balas ibu, “Ayo lekas ganti baju dan makan sana!” sambil meraih tas usang yang masih melilit di bahu kiri Kiki. Dalam hati, ibu tersenyum membayangkan bahagianya Kiki ketika melihat tas barunya nanti.
Dan. Usai makan..
“Wah! Ini buat Kiki, ya bu?!” Kiki kaget bercampur senang melihat tas barunya, dia tak menyangka akan secepat itu ibu memenuhi permintaannya, “Makasih bu, maafkan kesalahan Kiki ya!” lanjut Kiki sambil memeluk ibunya.
“Bapak, lihat tas baru Kiki, bagus kan?” Kiki dengan bangga memamerkannya ke bapak yang berbaring di ranjang. Bapak tersenyum.
“Ini dari bekas kemasan sabun colek dan detergen, kan bu?!” Tebak Kiki, ia tahu persis orang tuanya belum punya uang untuk membelikannya tas baru, “Kiki senang sekali, bu, pa. Kata bu guru kita harus ramah terhadap lingkungan dan berusaha memerangi polusi, salah satunya ya dengan daur ulang!”
“Syukurlah kalau kamu senang!” kata ibu tersenyum, “Kiki jangan malas ke sekolah lagi ya! Pendidikan itu penting, sama pentingnya dengan menyelamatkan lingkungan!”
Suasana Proses Belajar Mengajar di Sekolah Kami