sekolahku






         Rumah, Tempat Belajar dan Berbagi

12 Desember 2011

TAS DAUR ULANG UNTUK KIKI

Pagi. Pukul 6.29. Matahari mulai beranjak dari peraduannya, diiringi kicau burung yang seolah menggelitik tubuh yang malas untuk bangkit dari tidurnya.

Nak, ayo bangun, nak! Nanti kamu terlambat ke sekolah lho!” pinta ibu sambil menepuk lengan Kiki, anak bungsunya.

Kiki cuek saja, bahkan menggeser tubuh membelakangi ibunya sambil mempermantap balutan selimut di tubuhnya.

Nak, anak ibu yang pintar kenapa? Kamu tidak sedang sakit, kan?!” ucap ibu lembut, coba menyembunyikan kekhawatirannya sambil mengusap lembut dahi dan leher Kiki.

Kiki bergeming. Diam. Tidur. Atau..

Kiki tidak mau sekolah!! Kiki tidak mau pergi sekolah jika ibu tidak membelikan Kiki tas baru!” bentak Kiki berontak menepis tangan ibunya. Kakinya digerakkannya menendang hingga selimut tak lagi mantap membalut tubuhnya. Kiki menangis.

Ibu terdiam. Berjuta kebingungan seolah menarikan tarian melingkar di pikirannya. Ibu sedih belum bisa memenuhi keinginan Kiki untuk mengganti tas sekolahnya yang memang telah rusak. Ibu tak tahu ke mana mendapatkan uang pembeli tas, sedangkan suaminya hanya bisa terbaring di atas tempat tidur dikarenakan lumpuh. Lumpuh perekonomian keluarga.

Harapan tinggal ibu satu-satunya. Untuk menyekolahkan empat orang anak dan merawat suami tercinta yang sakit, setiap hari ibu jualan gorengan dan menitipkannya di warung tetangga. Penghasilannya sehari tak seberapa, paling tidak bolehlah untuk kembali mengepulkan asap dapur sehari. Besoknya, ya harus berjuang lagi melanjutkan hidup. Hidup itu harus selalu disyukuri. Dengan bersyukur, hati selalu bahagia dan terkayakan. Tuhan tak pernah meninggalkan umatnya yang selalu bersyukur, sabar, dan tawakkal. Ini filosofi hidup yang selalu ibu pegang dan membuatnya bertahan dalam menjalani hidup. Sungguh mulia.

Kiki bersabar ya, nak. Kalau Kiki tak sekolah nanti tak bisa mencapai cita-cita menjadi guru lho! Sementara.., pakai saja dulu tas yang ada. Ibu akan mengusahakan secepatnya mengganti tas kamu!” rayu ibu, coba menenangkan.

Kiki menghentikan tangisnya. “Ibu janji?” tantang Kiki.

Iya, ibu janji anakku sayang!” balas ibu.

Janji harus ditepati!” lanjut Kiki.

Iya, janji harus ditepati!” ucap ibu pasti, “Sekarang, ayo bergegas bangkit, mandi, gosok gigi, berseragam, sarapan!”

Tak mau berlama-lama lagi, Kiki langsung bangkit, mandi, gosok gigi, berseragam, dan sarapan.

Saya berangkat, bu!” Pamit Kiki sambil mencium tangan ibunya, setelah sebelumnya menengok bapaknya di kamar, “Assalamu alaikum!”

Waalaikum salam!” balas ibu, “Jangan main saat belajar ya.., dengar nasehat guru di sekolah!”

Urusan dengan Kiki untuk sementara selesai. Ibu langsung ke dapur untuk mengambil gorengan jualannya dan bergegas menitipkanya ke warung tetangga. Lima puluh gorengan telah tertata rapi di dalam baskom yang dialasi kertas koran. Satu gorengan dihargai Rp 450, jadi ibu maksimal hanya bisa mendapatkan Rp 22.500 per hari dari hasil jualan gorengan. Itu pun jika semua gorengannya laku terjual.

Tak jarang ibu harus bekerja ekstra dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter menjajakan dagangannya jika tak laku di warung. Jika tak laku lagi, ya.., dijadikan lauk untuk makan malam. Ibu tak mengeluh. Ibu selalu bersyukur.

Beres. Jualan telah dititipkan. Kini memutar pikiran untuk memenuhi janji mengganti tas Kiki. Ibu sebenarnya sudah punya rencana untuk itu. Sebuah tas daur ulang untuk Kiki!

Dikumpulkannya bekas kemasan sabun colek dan detergen, dicuci, dilap biar cepat kering, diangin-anginkan biar kering sempurna. Setelah kering, ibu ke tetangga lagi, numpang menjahit meminjam mesin jahit tetangga.

Mula-mula, dua bekas kemasan detergen digunting sama besar untuk bagian depan dan belakang tas, ditambah lagi dua potongan untuk sisi kiri dan kanan tas. Tiap bagian kemudian disatukannya dengan cara dijahit dengan mesin jahit. Untuk pengancing tas digunakan perekat yang diambili dari tas rusak. Demikian juga dengan talinya, semuanya diambili dari tas tua yang tak terpakai lagi namun ibu enggan membuangnya. Agar senada, tali tas tua tersebut sebelumnya dilapisi dengan kemasan bekas sabun colek. Semua pekerjaan membuat tas daur ulang dikerjakan ibu dengan senang hati. Janji memang harus ditepati. Dan hasilnya, jadilah tas daur ulang untuk Kiki!

***

Siang. Pukul 13.45. Matahari terik sedikit saja bergeser ke barat dari kepala. Intinya cuaca cerah. Tak ada mendung sedikitpun.

Assalamu alaikum!” teriak Kiki sejak masih di pekarangan rumah, “Saya pulang!” sambungnya tepat setelah memasuki rumah.

Waalaikum salam, nak!” balas ibu, “Ayo lekas ganti baju dan makan sana!” sambil meraih tas usang yang masih melilit di bahu kiri Kiki. Dalam hati, ibu tersenyum membayangkan bahagianya Kiki ketika melihat tas barunya nanti.

Dan. Usai makan..

Wah! Ini buat Kiki, ya bu?!” Kiki kaget bercampur senang melihat tas barunya, dia tak menyangka akan secepat itu ibu memenuhi permintaannya, “Makasih bu, maafkan kesalahan Kiki ya!” lanjut Kiki sambil memeluk ibunya.

Bapak, lihat tas baru Kiki, bagus kan?” Kiki dengan bangga memamerkannya ke bapak yang berbaring di ranjang. Bapak tersenyum.

Ini dari bekas kemasan sabun colek dan detergen, kan bu?!” Tebak Kiki, ia tahu persis orang tuanya belum punya uang untuk membelikannya tas baru, “Kiki senang sekali, bu, pa. Kata bu guru kita harus ramah terhadap lingkungan dan berusaha memerangi polusi, salah satunya ya dengan daur ulang!”

Syukurlah kalau kamu senang!” kata ibu tersenyum, “Kiki jangan malas ke sekolah lagi ya! Pendidikan itu penting, sama pentingnya dengan menyelamatkan lingkungan!”

16 Februari 2011

SAYA PAKAI KERTAS TIMBAL BALIK (Ini Soal Menyelamatkan Hutan Indonesia!)

“Lalu kenapa?!”

“Lha, tanya lagi!!”

“Lagi berhemat ya, bu?”

“Ini bukan hanya soal berhemat!

Ini soal menyelamatkan hutan Indonesia!

Kamu tau nda kertas itu dibuat dari apa??

Kertas itu terbuat dari kayu hasil penebangan hutan.”

Dilematis memang! Boleh dikata hampir seluruh kegiatan manusia tidak terlepas dari yang namanya kertas. Mulai dari urusan surat-menyurat, pembungkus barang dan makanan, cakaran, buku-buku, kertas ujian, rapor pelajaran, dan sebagainya.

“Apa mau dikata? Memang demikian adanya!”

Dilematis memang!! Terlebih profesi saya yang seorang guru di daerah terpencil tanpa akses internet. Sumber informasi digital selain televisi, ya.., hape [ibu belum pake BB lho ;)]. Selain itu, “ayo anak-anak mari kita baca buku..!” :) .

“Kertas..,kertas.., dan kertas lagi dong..!”

Dilematis memang!!! Tiada hari tanpa kertas, tiada hari tanpa menebang jutaan pohon. Boleh dikata sehari saja tidak menyentuh yang namanya kertas sama dengan tidak belajar. Nah.., saya ini kan seorang guru, harus belajar biar bisa mengajar. Lagi-lagi kertas deh, lagi-lagi hutan yang harus digundul.

“Lalu, kapan kita bisa belajar ramah terhadap alam?”

Dilematis memang!!!! Kita ini sangat tergantung dan banyak belajar dengan kertas yang terbuat dari kayu hasil hutan. Oleh karena itu, “ayo…! Ibu mengajak semuanya untuk berhemat dalam penggunaan kertas. Yang peduli dan serius jalankan, nanti ibu kasi nilai 100 di rapor lho!.

Ibu serius!, ini soal menyelamatkan hutan Indonesia, dan nilai 100 itu memang pantas bagi mereka yang peduli!”

“Gimana caranya menghemat kertas dan menyelamatkan hutan Indonesia?”

SAYA PAKAI KERTAS TIMBAL BALIK!, itu saja”


[Tulisan ini kubuat tanpa kertas, timbal balik kertas saya sudah penuh..,

rapor kalian, lisan saja ya..]

Hormat saya,

Herawati, S.Pd

16 Agustus 2009

MERAH PUTIH ANAK NEGERI

Filed under: Kantor, Kelas, Taman Sekolah — heraarifuddin @ 19:35
Tags:

Sore hari yang terik tersapu sepoi angin yang dikibaskan oleh daun kelapa melambai dan kibaran merah putih Indonesiaku di puncak tiang bambu. Di sana.., ada suara kami membaur bersama angin.

“Padamu negri kami berjanji

Padamu negri kami berbakti

Padamu negri kami mengabdi

Bagimu negri jiwa raga kami”

[Huff! Saya berhasil menyanyikannya meski dengan suara tak merdu tapi penuh haru]

Nah, anak-anak sekarang giliran kalian!

Na..na…nana….na…

Nana..na…nana…….
Kalian siap??

Belum, bu!!

Kalian sudah dengarkan ibu tadi mencontohkan.

Bernyanyi adalah sebuah ekspresi jiwa yang dituangkan dalam bentuk suara yang berirama.

[Huff! Benar tidak ya?!]

Sebagai manusia Indonesia, sepatutnya kita menghargai jasa-jasa para pejuang kita yang telah mempersembahkan tumpah darah mereka merebut kemerdekaan, dan..salah satunya dengan melestarikan lagu wajib negara kita demi menumbuhkan kebanggaan terhadap bangsa dan negara kita. Mengerti?

[Nah.. :) ini sudah pasti benar]

Iya, bu!!

Andi Sumange’ Lipu, kenapa gelisah dan tidak menyahut?

Maaf, bu, saya harus ke kebun bantu bapak kumpulkan kelapa!

Sabar sebentar, ya, nak :D

Menyambut HUT ke-64 negara kita, tidakkah kalian tergerak untuk memberi sebuah kado sederhana dengan menyanyikan lagu wajib Padamu Negeri pada upacara 17 Agustus di lapangan sekolah kita nanti? Inilah yang dapat kalian berikan untuk bangsa dan negara—sebagai pelajar, selain belajar dengan giat mencapai cita-cita setinggi langit.

Jangan mau kalah, meskipun kita berada di daerah dan jauh dari pusat kota, kita tidak boleh ketinggalan berpartisipasi merayakan HUT negara kita.

[Ibu serius, nak.]

Nah, kalian siap? Ayo kita mulai…

Satu..dua..tiga…!!

“Padamu negri kami berjanji

Padamu negri kami berbakti

Padamu negri kami mengabdi

Bagimu negri jiwa raga kami”

[Huff! Berhasil juga :) ]

Bu, bu, maaf, mau permisi ke kebun membantu ayah.

Maaf, harus menggiring itik ke kandang, bu.

Aku harus ke sawah, bu.

Saya juga, bu.

Saya juga.

Saya…

Saya.

Sore hari yang terik tersapu sepoi angin yang membaur semangat anak-anak pedalaman memeriahkan HUT ke-64 RI dan keharusan membantu orang tua di sawah dan kebun.

Majulah anak Indonesia, majulah pendidikan Indonesia, majulah bangsaku!!

Hormat saya,

Herawati, S.Pd

19 Juli 2009

PENDIDIKAN DAN BOM JAKARTA

Filed under: Curhatku, Kelas, Laboratorium — heraarifuddin @ 18:40
Tags: , , , , , , ,

Pagi itu, Jumat, 17-07-09, pukul 07-45 WIB, terjadi ledakan bom di hotel Marriot, Kuningan, Jakarta. Di tempat tersebut diduga terjadi 3 ledakan, yakni Di bank Panin, bank Permata, dan lobby hotel. Berselang dua menit kemudian, ledakan juga terjadi di restoran Airlangga hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta. Delapan orang tewas, 55 orang luka parah. Demikian berita yang marak di media. Menyedihkan.

Berbagai spekulasi pun muncul, di bidang politik, SBY menuding ada elit politik yang bermain di balik ledakan di kedua hotel tersebut. Di bidang olah raga, karena takut dengan ketidakamanan Indonesia, klub sepak bola dari Inggris, Manchester United (MU) batal bertanding melawan tim Indonesia All Star di Senayan, Jakarta. Di bidang ekonomi dan pertahanan keamanan, serangan teroris ini akan menghancurkan gambaran keamanan di Indonesia yang berusaha di bangun selama ini dan membuat investor kembali harus berpikir panjang untuk melakukan investasinya. Dan di bidang agama, tentu saja kejadian ini akan dikait-kaitkan kepada suatu aliran ideologi sebagai kambing hitam. Demikian berita yang marak di media. Menyedihkan.

Namun, adakah yang mengaitkannya dengan pendidikan? Pernahkah Anda mendengar media, baik itu elektronik maupun cetak, memberitakan hubungan pendidikan dengan bom Jakarta? Saya kira belum pernah. Menyedihkan.

Saya yang berprofesi sebagai guru, profesi yang menjadikan saya sebagai orang tua kedua atas anak-anak didik saya, tentunya sangat sedih dengan kejadian ini. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya orang tua yang telah mendidik dan membesarkan anaknya ternyata anaknya menjadi seorang teroris yang menghilangkan nyawa orang lain (Semoga kita senantiasa di-Rahmati Allah dan diberi keturunan-keturunan yang soleh, berakhlak mulia, dan patuh kepada kedua orang tua). Bagaimana sedihnya seorang guru jika mendapati anak didiknya ternyata menjadi sampah masyarakat; Pendidikan dan ilmu pengetahuan yang telah diberikan tidak digunakan untuk kebaikan. Menyedihkan.

Pendidikan memegang peranan penting dalam perkembangan psikologis seseorang, baik itu pendidikan formal maupun pendidikan di luar sekolah. Generasi terdidik akan menciptakan generasi bermental baja dan tidak mudah terpengaruh oleh doktrin-doktrin tertentu. Generasi terdidik ini akan mampu memilah mana yang benar dan yang kurang benar sebatas kemampuannya sebagai manusia karena kebenaran hanya milik Allah. Pendidikan yang baik akan memberikan kesantunan, sikap saling menghargai, pengertian, dan arah dalam hubungan kita dengan sesama, alam sekitar, dan Tuhan; Sehingga ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak menjadi senjata berbahaya yang mengancam sebuah peradaban, melainkan menjadi penyumbang terbesar atas kemajuan peradaban manusia.

Sebagai contoh, ilmu pengetahuan tentang bahan-bahan kimia; Ilmu pengetahuan ini dapat menjadi senjata berbahaya jika tidak digunakan secara beretika sesuai norma yang berlaku, seperti kejadian bom Jakarta dan aksi teroris lain sebelumnya (misalnya tragedi bom Bali I pada 12-10-02, bom Bali II pada 01-10-02, tragedi JW Marriot Jakarta pada 05-08-03, dan beberapa tragedi teror di tempat lain). Namun, ilmu pengetahuan tentang bahan-bahan kimia ini dapat menjadi penyumbang terbesar atas dunia pengobatan kedokteran, atau nuklir yang bisa dijadikan pembangkit listrik jika digunakan sebagaimana mestinya.

Karenanya, jangan pernah memandang remeh yang namanya pendidikan. Dalam sebuah ruangan kelas yang berukuran tak lebih dari 8 x 6 meter, di dalamnya pasti terdapat calon pemimpin, calon guru, calon dokter, calon akuntan, calon ilmuwan yang kelak berperan dalam perkembangan peradaban manusia; Yang jika tidak dibekali dengan mental yang kuat akan mudah untuk dihasut di masyarakat.

Dari kejadian yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia ini, kejadian yang mempengaruhi suhu politik di negara kita, kejadian yang menciptakan kesan kurang amannya negara kita dan mungkin mempengaruhi investasi ekonomi, kejadian yang mungkin mengaitkan sebuah golongan ideologi sebagai kambing hitam, semoga kita bisa mengambil hikmah yang berharga dan tidak mengambil sebuah penafsiran tak berdasar. Intinya ada pada pendidikan manusia Indonesia kita, yang berperan pada moral dan mental generasi kita.

Demikian tulisan saya, semoga memberi motivasi bagi para orang tua dan guru untuk mengikutsertakan pendidikan moral dan agama dalam menyampaikan materi yang diajarkannya, agar kelak anak didik kita menjadi generasi yang dapat menggunakan ilmu pengetahuan yang dimilikinya untuk kemajuan peradaban manusia sebagaimana tugasnya di bumi menjadi khalifah. Semoga tidak ada lagi penyimpangan-penyimpangan ilmu pengetahuan, demi perdamaian dunia.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Herawati, S.Pd.

17 Juli 2009

ASYIKNYA AKSES INTERNET MELALUI HP: My First Online Experience

Filed under: Curhatku — heraarifuddin @ 07:19
Tags:

Saya adalah seorang guru pada sebuah sekolah yang terletak di daerah perbatasan sebelah utara kabupaten Sidrap, salah satu kabupaten penghasil beras terbesar di Sulawesi Selatan.

Akses informasi di tempat saya yang jauh dari kota kabupaten sangat sulit, akses internet boleh dikata tidak ada, sementara profesiku sebagai pengajar menuntut adanya akses internet demi memperkaya materi yang akan saya sampaikan ke anak didik saya.

anak didikSuasana Proses Belajar Mengajar di Sekolah Kami

Sudah sejak lama saya mengimpikan untuk akses internet pada SMP tempat saya mengajar, namun hal tersebut sepertinya adalah hal yang sia-sia karena sambungan telepon rumah saja belum masuk ke desa tempat saya berdomisili sekarang.

Hingga pada suatu liburan akhir semester, saya berkunjung ke tempat suami di Makassar (kami harus berpisah tempat karena suami beda tempat tugas). Dia memperkenalkan saya dengan akses internet melalui HP. Saya senang sekali, dengan HP ternyata saya bisa mengakses internet. He..he..he.., maklum saya domisilinya di desa terpencil yang jauh dari perkembangan teknologi. Untung masih ada satu operator GSM yang bisa sampai sinyalnya di tempat saya, meski terkadang hilang dan harus mencari tempat tertentu agar dapat sinyal.

Saat itu juga saya merasakan asyiknya akses internet melalui HP dengan dibimbing suami. Berjam-jam saya menghabiskan waktu untuk kursus berinternet melalui HP hari itu juga bersama suami (ternyata tarifnya murah, kata suami saya Rp 1/kb, entah itu apa saya tidak mengerti). Yang pertama diajarkan adalah sebuah situs jaringan pertemanan yang saat ini sedang berkembang pesat dan beritanya hanya sering saya lihat di TV sewaktu di tempat tugas. Dengan sabar suamiku mengajarkan mulai dari registrasi, login, mencari teman, memperbarui status, memberi komentar, dan sebagainya.

Kemudian saya mencoba untuk mencari bahan ajar dan perangkat pembelajaran matematika (bidang studi saya adalah matematika) dari mesin pencari di internet (wah..pekerjaanku jadi semakin mudah dengan internet, saya pun bisa memperkaya materi pelajaran saya).

Dan agar saya tidak ketinggalan berita pada tiap detiknya di daerah di mana akses informasi sangat sulit, suami saya memperkenalkan situs warta era digital, DetikCom. Di situs ini ternyata saya bisa mendapatkan informasi terkini pada tiap detiknya, baik itu info kesehatan, berita pemilu, olah raga, dan lain-lain. Dari situs DetikCom ini pula saya mendapatkan informasi tentang DetikCom ultah ke-11 kanal komunitas bagi-bagi hadiah.

Saya pun langsung tergerak untuk menceritakan pengalaman mengasyikkan saya berinternet meski melalui HP. Tanpa menunda-nunda waktu lagi, saya meminta suami saya untuk diajarkan membuat blog. Namun, karena kata suami saya agak ribet jika buat blognya melalui HP, ia pun mengajak saya ke kantornya untuk membuat blog di BlogDetik melalui komputer yang akhirnya jadilah sebuah blog seperti yang teman-teman lihat sekarang.

Sungguh pengalaman liburan akhir semester yang menyenangkan. Saya akan membawa kado istimewa buat teman-teman guru dan siswa tercinta di daerah terpencil tempat saya mengajar, sebuah kado yang semoga dapat memajukan kualitas pendidikan di daerah terpencil, sebuah kado yang akan membukakan dunia bagi daerah terpencil, sebuah pengetahuan tentang koneksi internet melalui HP.

Selamat ulang tahun ke-11 DetikCom, situs warta era digital yang akan membukakan dunia bagi daerah terpencil seperti tempat saya. Semoga netbook-nya dapat kugunakan sebagai media ajar di sekolah tempat saya mengajar (he..he..he.., anggap saja sebagai sumbangsih DetikCom bagi dunia pendidikan kita).

Sekian dulu tulisan saya, semoga menjadi inspirasi bagi teman-teman guru yang ditempatkan di daerah terpencil seperti saya. Pahlawan tanpa tanda jasa tidak boleh ketinggalan pengetahuan, karena dari kitalah para anak didik kita memperoleh pengetahuan. Maju terus DetikCom, maju terus Teknologi Informasi Indonesia, maju terus pendidikan Indonesia.

Semoga bermanfaat,

Salam,

Herawati, S.Pd.